Kekeringan Mulai Meluas di Patani Utara, Petani Minta Bantuan Air

Sebarkan:
Tanaman Cabai Milik Kelompok Tani Woyo Myasang Tampak Mulai Layu
HALTENG, PotretMalut - Musim kemarau yang melanda Kecamatan Patani Utara, Kabupaten Halmahera Tengah, selama hampir dua bulan terakhir, mulai berdampak serius terhadap sektor pertanian.

Ribuan tanaman cabai milik petani di Desa Tepeleo, dilaporkan layu dan mengering akibat krisis air yang memicu penurunan drastis pada hasil panen. Berdasarkan pantauan di lokasi, daun dan batang tanaman cabai tampak mulai mengering. Sebagian tanaman bahkan mulai mati akibat minimnya pasokan air.

Kondisi ini mengancam keberlangsungan produksi cabai, yang menjadi salah satu sumber pendapatan utama masyarakat setempat.

Program budidaya cabai di Desa Tepeleo ini dikelola oleh Kelompok Tani Woyo Myasang. Kelompok yang diketuai oleh Jumain Talhad bersama 10 anggotanya ini, mengelola lahan seluas satu hektare. Mereka menanam sekitar 3.500 pohon cabai secara bertahap menggunakan sistem tanam berjenjang, untuk menjaga kontinuitas pasar.

Namun, hantaman kemarau membuat hasil panen perdana jauh dari target. Dari ribuan pohon yang ditanam, kelompok tani ini hanya mampu memanen sekitar 23 kilogram cabai.

"Kondisi sekarang sangat memprihatinkan. Hasil panen perdana kami hanya sekitar 23 kilogram, padahal tanaman yang kami tanam mencapai 3.500 pohon. Banyak tanaman mulai layu karena sudah hampir dua bulan tidak turun hujan," ujar Jumain, Selasa (04/p8/2026).

Jumain menambahkan, bahwa kekeringan ini sudah meluas ke komoditas lain. Tanaman perkebunan dan hortikultura milik warga di Kecamatan Patani Utara juga mulai mengering.

"Tidak hanya tanaman cabai yang terdampak, tetapi tanaman pala, cengkeh, tomat, dan berbagai tanaman hortikultura milik masyarakat juga mulai mengalami kekeringan," sebutnya.

Mengantisipasi kerugian yang lebih besar, Kelompok Tani Woyo Myasang meminta Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah melalui dinas terkait, untuk segera turun tangan.

Mereka membutuhkan bantuan kedaruratan infrastruktur air, spertu pompa air untuk menyedot sumber air terdekat, sumur bor sebagai sumber air baru, serta sarana irigasi sederhana untuk distribusi air ke lahan.

"Kalau kondisi ini terus berlanjut, kami khawatir sebagian besar tanaman akan mati dan petani mengalami kerugian yang lebih besar. Kami berharap pemerintah segera turun tangan membantu petani," tutup Jumain.

Saat ini, keresahan mulai meluas di kalangan petani Patani Utara. Mereka berharap hujan bisa segera turun agar tanaman yang tersisa dapat diselamatkan dari risiko gagal panen total. (Calu/red)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini