Trisula Ternate dan Siasat Portugis

Sebarkan:
Rumah Batangan Gamkonora Tahun 1917
Oleh: Akbar Fara
(Pemerhati Sejarah Gamkonora)

Pada 28 Februari 1570, Sultan Khairun memasuki benteng Gamlamo untuk memenuhi undangan perdamaian Portugis. Di tempat itulah Antonio Pimental membunuhnya atas perintah Diogo Lopes de Mesquita. Sultan yang datang untuk menyudahi pertikaian tidak kembali ke kedatonnya (Johan Setiawan dan Dyah Kumalasari, Historia, 2019).

Portugis memperoleh kesempatan mendekati penguasa melalui janji perdamaian. Kekuasaan Ternate bertumpu pada pribadi sultan dan hubungan dengan pembesarnya. Bila hubungan itu dapat dipengaruhi, jalan menguasai negeri terbuka tanpa harus menaklukkan setiap daerah parifer. Keselamatan seorang penguasa bergantung pula pada keteguhan orang kepercayaan yang mendampinginya dalam menjalankan pemerintahan. Untuk memahami bahaya yang diwarisi Baabullah, kita perlu mundur ke masa sebelum Khairun memerintah.

Pada masa Jorge de Menezes, Raja Muda Taruwese Tomagola (Kaicil Darwis Bin Zainal Abidin Syah) pernah membantu kepentingan Portugis. Hubungan itu kemudian pecah. Heinrich Bokemeyer, dengan merujuk De Barros dan Valentijn, mencatat persekutuan Taruwese bersama penguasa Jailolo, kapita laut, dan Jo hukum Ternate untuk menyingkirkan kekuatan Eropa. Rencana rahasia tersebut terbongkar. Menezes lalu mengeksekusi Taruwese di depan umum Gamlamo (Die Molukken, 1888, halaman 55). Lawan sanggup mengetahui permufakatan yang disusun dalam lingkungan pembesar Maluku.

Adnan Amal memberikan keterangan lain yang memperlihatkan cara Portugis merawat pengaruh: Menezes pernah menjanjikan dukungan agar Taruwese menjadi Sultan Ternate menggantikan saudara se-Ayah yakni Sultan Bayanullah (Kepulauan Rempah Rempah, halaman 43). Janji takhta menyentuh ambisi seorang pembesar. Dari sanalah kekuatan asing memperoleh tempat dalam pertarungan istana. Kesediaan membantu dapat berubah menjadi alat menekan orang yang semula merasa dirinya diuntungkan.

Spionase pada masa itu patut dibaca bersama politik persekutuan dan tipu diplomasi. Terbongkarnya rencana Taruwese memperlihatkan perebutan informasi; janji takhta menunjukkan usaha memengaruhi keputusan. Kita tidak mengetahui siapa yang membocorkan permufakatan tersebut. Yang terang, kerahasiaan para pembesar telah gagal melindungi mereka. Bagi penguasa Maluku, kelengahan mempunyai akibat yang dapat mencapai keselamatan dirinya.

Di tengah pergolakan demikian, hubungan Ternate dengan Gamkonora memperoleh arti. Naidah Jo Hukum Soasio Ternate dalam catatan kerajaan menuturkan perpindahan leluhur Tomagola dari Gamkonora ke Talangame kemudian ke Limau Fitu, Ternate (Geschiedenis van Ternate, terjemahan dan catatan P. van der Crab, 1878, halaman 388). Argensola menyebut Gamocanora (Gamkonora) berada di tengah antara Jailolo dan Moro (The Discovery and Conquest of the Molucco and Philippine Islands, 1708, halaman 250). Nama negeri di pesisir barat Halmahera itu melekat pada riwayat keluarga yang kemudian menjadi pendiri Fala Raha kesultanan.

Kapita Rubohongi bin Samarau berasal dari lingkungan tersebut. Ia cucu Kibuba, dalam ingatan Gamkonora disebut Kiemalaha Kibuba dan dihubungkan dengan seorang Panglima loyalis di masa Sultan Zainal Abidin Syah pada akhir abad kelima belas. Melalui Samarau, pengabdiankeluarga ini memasuki pergolakan pemerintahan Khairun.

Adnan Amal menyebut Samarau sebagai mangkubumi/wali Raja yang mendampingi Khairun muda, sebagaimana dikutip Randy Wirayudha dari Tahun Tahun yang Menentukan (Historia, 2018). Bokemeyer mencatat kecakapannya menghadapi petinggi Portugis Tristão de Ataíde. Di hadapan gubernur Portugis itu, Samarau memperlihatkan kepatuhan, tapi secara rahasia ia menyampaikan maksud terselubung gubernur itu kepada para Penguasa Jailolo dan Ternate (Die Molukken, halaman 62, merujuk De Barros, dekade IV, buku 6, bab 26).

Keinginan Portugis dalam misi menemukan emas memberinya kesempatan. Atas nasihat Jogugu Samarau, Ataíde mengirim sebuah armada kapal ke Mindanao dan Celebes, yakni Sulawesi, untuk mencari emas. Pengiriman itu mengurangi kekuatan Portugis ketika pergolakan meluas di Maluku. Perlawanan berlangsung di Moro dan Ternate, sementara Portugis kekurangan pasukan, perlengkapan perang, dan makanan (Bokemeyer, Die Molukken, halaman 63, merujuk De Barros, dekade IV, buku 6, bab 25, serta Valentijn).

Samarau mengerti apa yang diinginkan lawannya. Kabar tentang emas membuat gubernur mengalihkan sebagian tenaga pada saat kedudukannya memerlukan pengamanan. Ia memanfaatkan kepercayaan Portugis untuk memengaruhi gerak mereka. Sumber menyebut berita rahasia diteruskan kepada para penguasa Maluku; dalam lingkungan pemerintahan Khairun, kecakapan demikian memberi seorang jogugu bekal untuk menimbang maksud kekuatan asing.

Gamkonora yang mempunyai hegemoni politik di luar kedaton. Pada 1543, penduduk Galela mengakui kekuasaan Sangaji Gamkonora bernama Leliato (Ramedi), ipar Khairun (Meike Siahaya, Pemerintahan Galela pada Zaman Dahulu, terjemahan, FULI, 2013, halaman 18). Hubungan dengan Gamkonora kini memberi kesultanan tumpuan pada pembesar yang mempunyai kewibawaan di wilayah kawasanya sendiri.

Pada November 1544, Jordão de Freitas tiba di Ternate dengan membawa kabar bahwa Sultan Tabariji yang diasingkan ke Manila akan kembali bertakhta. Khairun dan Samarau terancam pengasingan (Adnan Amal, Kepulauan Rempah Rempah, halaman 45). Pengumuman itu menempatkan kedaton dalam ketidakpastian. Gubernur asing berbicara seolah dialah yang menentukan siapa berhak memerintah. Berita mengenai pergantian sultan menjadi tekanan terhadap penguasa yang sedang bertakhta dan terhadap pembesar yang menopangnya.

Kedekatan Samarau kepada Khairun membawa risiko. Keduanya ditangkap dan diasingkan Portugis ke Malaka. Sesudah bebas, Khairun pergi ke Goa untuk mempersoalkan pelengseran serta hukuman yang dikenakan kepadanya. Ia kembali ke Ternate pada November 1546 (Adnan Amal, Kepulauan Rempah Rempah, halaman 46). Samarau ikut menanggung ancaman yang menimpa sultan. Christopher Buyers menempatkan perkawinan Khairun dengan keluarga Sangaji Gamkonora pada 1546 (The Royal Ark, genealogi Ternate) ketika sekembalinya dari Goa India, Khairun didampingi Samarau mempersunting adik perempuan Sangaji Gamkonora Leliatu.

Riwayat Gamkonora mengenang Jo'ong Magidamo Wele’a sebagai ibunda Hidayat Suki Tomagola, putra Khairun berdarah Tomagola yang kelak dikenal sebagai Jogugu Dayo. Hubungan ini menerangkan kedekatan Gamkonora dengan rumah tangga kesultanan. Orang yang menjaga sultan ikut menjaga keluarga dan kedudukan negerinya. Meski demikian, pertalian darah tetap memerlukan pembuktian melalui tindakan bela Maluku. Pengalaman Taruwese mengingatkan betapa ambisi pembesar dapat mengundang campur tangan asing kastela de franka.

Ketika Khairun terbunuh pada 1570, Baabullah mewarisi seluruh pengalaman itu. Undangan Portugis telah mencelakakan ayahnya, sedangkan benteng mereka masih berdiri di Ternate. Perang membutuhkan pembesar yang dapat dipercaya ketika berada jauh dari sultan. Seorang salahakan di selatan dan seorang panglima di laut memegang urusan yang tidak mungkin diawasi Baabullah setiap hari. Kesalahan memilih Jendral lapangan akan memberi Portugis kesempatan memperoleh sekutu dari dalam.

Pada 1570, Baabullah mengangkat Rubohongi Tomagola sebagai salahakan Ambon menggantikan ayahnya Samarau (Adnan Amal, Kepulauan Rempah Rempah, bagian Ekspansi Ternate). Bokemeyer menyebut kecakapannya mengurus Amboina, Hoamoal, Pulau Buru, Manipa, Ambalau, Kelang, dan Buano (Die Molukken, halaman 73). Putra seorang jogugu itu menerima tanggung jawab atas wilayah yang menentukan pengaruh Ternate di selatan jauh.

Perintah sultan menyeberangi laut untuk mencapai para pemimpin setempat. Dari daerah itu pula datang keterangan mengenai pasukan dan perbekalan. Rubohongi berada pada pertemuan antara perintah kedaton dan kesanggupan daerah. Apabila pembesar semacam ini berpaling, berita yang diterima sultan dapat menyesatkan keputusan perang. Kepercayaan Baabullah kepada keluarga Samarau sangat kuat.

Kedudukan orang Gamkonora di lingkungan ini ditopang riwayat pengabdian yang dapat ditelusuri. Samarau mengenal urusan gubernur; Rubohongi memegang pemerintahan daerah. Baabullah memperoleh tumpuan dari pengalaman keluarga yang telah bersentuhan dengan siasat Portugis. Nama leluhur memberi alasan untuk percaya, sedangkan pekerjaan seorang pembesar menentukan apakah kepercayaan itu pantas dipertahankan.

Di perairan Sula tampil Kapita Kapalaya. Syaiful Bahri Ruray menempatkannya dalam kekuatan laut Baabullah (Kepulauan Sula Menelusuri Jejak dan Identitas, halaman 6). Riwayat Sulabesi menyebut asalnya dari Matapia Sua dan mengenang Boki Bega, istri Baabullah, sebagai perempuan Sulabesi. Tradisi setempat ini menautkan pengabdian Kapalaya dengan kedekatan Sula kepada keluarga sultan. Di belakang panglima berdiri penduduk yang menyediakan perahu serta menanggung perbekalan.

Panglima laut harus mengenal jalur pelayaran, tempat persinggahan, dan kesanggupan awaknya. Utusan dapat menumpang kapal dagang; berita mengenai bala bantuan dapat tiba bersama muatan makanan. Orang yang menguasai perhubungan demikian ikut menentukan apa yang diketahui sultan. Kesetiaannya mempunyai nilai sebesar kecakapannya memimpin armada laut.

Perkara makanan akhirnya memperlihatkan batas kekuatan benteng. Luis Filipe Thomaz menerangkan bahwa Maluku bergantung pada pangan dari Sahu dan Mamuya di Halmahera, Sumbawa, dan Jawa, sementara jaringan benteng Portugis sendiri tersebar renggang (Les Portugais dans les mers de l'Archipel au XVIe siècle, Archipel, 1979, halaman 106 dan 120). Meriam tidak dapat menggantikan beras dan sagu. Penguasaan jalur perbekalan memberi Baabullah kesempatan menekan Portugis melalui kebutuhan hidupnya.

Pengepungan yang dimulai pada 1570 berlangsung lama. Semula penghuni benteng masih mendapat kelonggaran mencari makanan. Setelah Portugis berusaha meminta pertolongan Goa dan Malaka, Baabullah memperketat tekanan. Kelaparan dan penyakit melemahkan mereka (Adnan Amal, Kepulauan Rempah Rempah, halaman 50 sampai 51). Memelihara dukungan daerah menjadi pekerjaan penting selama pasukan bertahan mengepung Gamlamo. Penduduk di luar benteng pun harus makan; kesanggupan mereka menopang pasukan menentukan berapa lama tekanan atas Portugis dapat terus dipertahankan.

Menjelang akhir 1575, kabar mengenai kapal Portugis di sekitar Mayau dan Tifure mendorong Baabullah memerintahkan penyerbuan. Seketika Nuno Pereira de Lacerda menawarkan perdamaian sebelum serangan Baabullah dimulai. Adnan Amal menempatkan penyerahan Portugis pada 26 Desember 1575 (Kepulauan Rempah Rempah, halaman 51). Sesudah hampir lima tahun benteng Gamlamo dikepung pasukan Alifuru dari Jailolo dan Gamkonora, benteng kehilangan kemampuan bertahan. Berita dari laut turut menentukan saat kesultanan mengakhiri pengepungan.

Bahaya dari luar kembali dalam masa pemerintahan berikutnya. Di sinilah kedudukan Hidayat Suki Tomagola atau Dayo perlu ditempatkan menurut waktunya. Christopher Buyers mencatat putra Khairun itu sebagai gubernur Huamoal dan Hitu, serta jogugu dan pemangku pemerintahan pada 1605 sampai 1610 (The Royal Ark). Riwayat Gamkonora mengenangnya pula sebagai sangaji Gamkonora. Pengabdiannya menghadapi kekuatan dari Manila Filipina berlangsung sesudah masa Baabullah.

Pada 1606, Spanyol merebut Gamlamo dan membawa Sultan Saidi Barakati ke Manila. Dayo atau Hidayat mengutus adiknya Kaicil Ali Kafati ke Banten untuk meminta pertolongan Belanda (F. S. A. de Clercq, Ternate The Residency and Its Sultanate, terjemahan Smithsonian, 1999, halaman 111). Dayo menjaga perhubungan politik ketika sultan ditawan. Dengan cara itulah ia menjadi benteng pemerintahan Ternate menghadapi ancaman dari arah Filipina.

Pertolongan tersebut membawa tuntutan. Perjanjian 1607 mengatur bantuan menghadapi Spanyol sekaligus monopoli cengkih bagi Belanda (De Clercq, halaman 111). Pengalaman lama berhadapan dengan Portugis memperoleh ujian baru. Seorang jogugu harus menjaga kelangsungan negeri sambil menghadapi syarat yang dapat membatasi kebebasannya.

Rubohongi, Kapalaya, dan Dayo dapat dibaca sebagai trisula pengabdian yang melintasi pergantian sultan. Pemerintahan wilayah, perhubungan laut, dan kecakapan diplomasi menyokong keselamatan Ternate. Kesetiaan mereka memperlihatkan tanggung jawab panglima laut, kapitan, maupun jogugu dalam lingkaran pertama kekuasaan: menjaga sultan seperti menjaga keluarga sendiri, dengan tetap memikul kepentingan rakyat. Sejarah Khairun menunjukkan akibat ketika janji lawan dipercaya; riwayat Samarau menunjukkan faedah ketika maksud lawan lebih dahulu diketahui. ***

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini