14 Kunci Menjadi Editor

Sebarkan:
Rusdin Tompo (doc. Pribadi)

Catatan Pengalaman Rusdin Tompo

(Penulis, Editor, dan Koordinator SATUPENA Provinsi Sulawesi Selatan) 

Editor itu mirip pencari bakat, ia bisa melihat naskah, (rancangan) judul tulisan, dan kisah menarik sebagai potensi untuk dibukukan. Tentu ia bekerja bukan berdasar intuisi semata, atau mengandalkan semacam penerawangan. Bukan itu… bukan begitu. Sebab, yang dia hadapi adalah teks dan konteks dalam satu paket, yang dalam imajinasinya bisa punya kemanfaatan bagi orang lain. Karena kaya nilai pembelajaran, bisa menginspirasi dan memotivasi. Bisa pula lantaran ada sejumput gagasan bernas di situ, yang dapat menambah referensi dan akan berkontribusi bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Kalau dari sisi industri, tentu perlu ditambah, syaratnya harus punya nilai jual: laku di pasaran!

Kembali ke soal editor, saya mau berbagi berdasarkan pengalaman saja, apa yang saya kerjakan beberapa tahun belakangan ini. Sebagai editor, saya menerima naskah dalam beragam tema dan bentuk. Temanya, bisa pendidikan, kepolisian, lingkungan, pemberdayaan masyarakat, difabel/disabilitas, perlindungan anak, komunikasi dan media massa, perpustakaan dan literasi, budaya, serta tema-tema lain di luar disiplin ilmu hukum saya. Bentuknya bisa berupa naskah yang hanya butuh finishing touch, naskah setengah jadi, atau naskah yang masih perlu dirakit di sana-sini. Apa pun tema dan bentuknya, menjadi tantangan bagi saya selaku editor untuk menggarapnya. Boleh dikata, tiada hari tanpa belajar bagi seorang editor. Saya justru banyak mendapat ilmu baru dari tulisan-tulisan dan buku-buku yang saya sunting.

Nah, sebelum saya mulai mematut diri di depan laptop, saya tentu membaca dahulu naskah atau dokumen yang akan diedit. Saya menyelami roh dari naskah yang ada, menemukan gagasan utamanya dan pesan yang mau disampaikan penulisnya. Kadang dibaca secara cepat, mungkin dengan teknik skimming dan scanning, sebagaimana dimaksud Soedarso, dalam buku Speed Reading (2001). Secara sederhana, skimming itu cara membaca efisien, sedangkan scanning itu cepat menemukan informasi. Dari situ, sudah ada gambaran, dari mana saya akan memulai, dan bagaimana saya akan mengerjakannya.

Tentu saja, saya mesti membangun suasana yang nyaman untuk itu. Pikiran dan hati saya mesti selaras lebih dahulu. Itu sangat penting. Bagi saya, mood itu tidak datang sendiri tapi diciptakan. Saya biasa bekerja sambil mendengarkan musik, dengar radio, sesekali menyiram tanaman, melihat tumbuhan hijau dan mekarnya bunga, atau mencandai kucing di depan rumah. Itu semacam tamasya yang menghadirkan kesegaran baru dan energi bagi hati dan pikiran. Namun, tidak lengkap rasanya bila belum ada kunci yang pertama, yaitu KOPI. Kopi di sini, bisa itu berupa kopi hitam, kopi susu, teh hangat, atau minuman dengan temannya: kudapan. Bisa kue-kue tradisional, keripik, atau kacang.        

Kunci kedua adalah KUOTA DATA. Di abad sofistikasi teknologi ini, sulit membayangkan hidup dengan smartphone tanpa diisi kuota data. Kuota, jaringan internet, dan Wifi penting untuk berkomunikasi dengan klien (baca: yang punya buku), untuk mengkonfirmasi istilah, data, referensi, dan lain sebagainya. Kunci ketiga adalah KAMUS. Misalnya, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Editor sebaiknya selalu bersentuhan dengan kamus, buku pintar, dan ensiklopedia, sebagai sumber rujukannya. Pada tahap ini, saya biasanya juga menyediakan dan mencari buku-buku yang sesuai dengan kebutuhan naskah yang diedit. Buku-buku itu saya letakkan di samping agar mudah menjangkaunya.

Kunci berikut atau yang keempat adalah KOSAKATA atau perbendaharaan kata. Modal sebagai pembaca segala, akan sangat berguna menjadi seorang editor. Dengan terbiasa membaca banyak hal, setidaknya ikut menambah perbendaharaan kata, dan tentu saja menambah wawasan. Kunci kelima adalah KAIDAH kebahasaan dan penulisan. Ini sesuatu yang perlu diperhatikan sebab punya aturan yang pasti. Karena saya seorang otodidak, maka biasanya saya melihat pola, lalu saya adaptasi. Saya banyak membaca dan menjadikan media-media mainstream seperti Harian Kompas dan Majalah Tempo, sebagai rujukan.

Seorang editor harus KRITIS, skeptis dan punya kemampuan analitis. Itu sebagai kunci keenam. Sikap kritis, skeptis, dan punya kemampuan analitis, merupakan kunci untuk bisa melihat kekurangan naskah. Kadang, suatu kalimat terlihat aman, tapi sesungguhnya mengandung pertanyaan soal kesahihan informasi dan fakta-fakta yang ditulis dalam naskah. Misalnya, ada kalimat “saya makan di tempat yang biasa disinggahi juga oleh kalangan selebritas”. Pertanyaannya, benarkah tempat itu biasa disinggahi selebritas? Siapa saja selebritas yang pernah singgah di situ? Dan pertanyaan-pertanyaan indepth lainnya yang masih bisa dikembangkan.

Kunci ketujuh adalah KOMPETENSI. Maksudnya, kompetensi teknis yang terkait pengeditan dan penulisan buku. Juga kompetensi teknologi karena bersentuhan dengan komputer dan laptop, atau berselancar di dunia maya, yang membantu kemudahannya dalam bekerja. Kunci kedelapan adalah KOMUNIKASI. Komunikasi merupkan soft skill yang diperlukan seorang editor untuk mengkonfirmasi, mengklarifikasi, atau memvalidasi informasi dalam naskah buku yang tengah dikerjakan. Dia perlu melakukan itu agar informasi dalam buku yang diedit menjadi jelas, logis, dan dapat dipertanggungjawabkan. Apalagi jika punya nilai sejarah, berkaitan dengan pengetahuan umum, atau bersentuhan dengan orang lain.

Selanjutnya, kunci kesembilan adalah KONSISTENSI. Penggunaan istilah atau sapaan harus konsisten. Jika menggunakan kata “aku”, maka kata itu terus dipakai, jangan digonta-ganti dengan “saya”. Itu contoh konkretnya. Kunci kesepuluh adalah KETERBACAAN, yang memungkinkan naskah atau buku kita lebih mudah dipahami, lebih mengalir alur ceritanya, atau bangunan gagasannya terstruktur baik. Kunci kesebelas adalah KOMPREHENSIF atau KOMPLIT. Namanya juga buku, sebaiknya informasi yang disuguhkan juga kaya: data, informasi, perspektif, teori, dan lain-lain. Sudut pandang yang luas, juga akan membuat pembaca bisa menikmati buku tersebut. Ibarat kita menyantap makanan yang kaya bumbu, tentu akan lebih nikmat.

Kunci keduabelas adalah KESAMAAN frekuensi. Seorang editor sejatinya tak hanya berhadapan dengan teks yang disodorkan padanya. Sangat dianjurkan untuk dia bisa memasuki cara berpikir dan ruang batin orang yang punya buku, si penulis buku. Dia perlu membangun kesamaan persepsi dengan penulisnya. Dia perlu mengatrol diri agar, paling tidak, setara dalam hal bacaan dengan penulis buku itu. Saya misalnya, ketika mengedit buku dan penulis bukunya menyebut dia membaca buku Stephen R. Covey, “The 7 Habits of Highly Effective People”, maka saya akan membaca buku itu pula. Meski tak harus tuntas. Paling tidak, saya paham mengapa dia menyukai gagasan tentang tujuh kebiasaan yang dikemukakan buku tersebut. Ketika penulis menyebut dia mendengarkan Kenny G, maka saya akan mendengarkan liukan bunyi saksofon musikus tersebut, sambil mengedit bukunya.

Kunci ketigabelas adalah KLIEN. Seorang editor merupakan pekerja profesional. Dia tahu kepada siapa produknya akan diberikan, yakni pemesan, dalam hal ini, penulis buku. Jadi, dia mesti fokus pada mitranya itu. Dengan catatan, tidak berarti dia manut saja. Tetap perlu ada diskusi, sharing, dan masukan. Biar bagaimanapun, produk akhir dari buku itu juga merupakan karyanya. Apakah namanya sebagai editor terdapat di cover atau ngumpet di balik halaman, tetap dia juga menjadi bagian dari rasa memiliki buku itu. Diskusi di sini, termasuk tentang format bukunya seperti apa, gaya reportase, naratif/bercerita, tulisan ilmiah populer, atau bernuansa sastra. Kunci terakhir atau keempatbelas adalah KUALITAS produk. Demi menjaga kualitas pengeditan, saya menerapkan standard quality control, tentu dalam versi saya.

Editor itu seorang pekerja kreatif. Sehingga, jangan membayangkan bahwa dia akan melakukan pengeditan selalu berdasarkan urutan halaman. Jangan pula membayangkan waktu kerja seorang editor itu sama dengan jam pekerja kantoran. Saya pun demikian. Jurus mengedit itu tergantung situasi lapangan dan kondisi naskah. Itu terpulang pada gaya dan cara kerja editor bersangkutan. Pasti ada “bumbu rahasia”, yang setiap editor punya, biar gurih buku yang dihasilkan. Tidak heran bila ada yang menyebut editor itu serupa dengan seorang chef. (*)

Gowa, 24 September 2023

   

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini