Didukung SDC, BNPB Bentuk Wartawan Peduli Bencana

Sebarkan:
Foto bersama usai penutupan workshop Jurnalis Tangguh Bencana 
TERNATE, PotretMalut - Sebanyak 25 orang wartawan dari 5 organisasi pers di Maluku Utara dikukuhkan menjadi "wartawan peduli bencana" Malut oleh Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Abdul Muhari, Jum'at, (17/05/2025).

“Wartawan peduli bencana” yang disingkat WAPENA, terbentuk usai wartawan yang tergabung dalam organisasi pers PWI, AJI, SMSI, IJTI, dan AMSI mengikuti workshop Jurnalis Tangguh Bencana yang digelar Pusdatinkomben BNPB atas dukungan Swiss Agency for Development and Cooperation (SDC).

Workshop yang dipusatkan di Emerald Hotel, berlangsung selama tiga hari, 15-17 Mei yang diikuti 30 peserta, 25 peserta wartawan dan 5 peserta dari BPBD.

Pada hari pertama, peserta mendapatkan materi bahaya hidromet (cuaca ekstrem, banjir dan tanah longsor), bahaya geologi yang terbagi dalam dua sesi (gempa bumi dan tsunami) dan erupsi gunung api, dan keamanan dan keselamatan dalam peliputan bencana.

Hari kedua, komunikasi kebencanaan, menyikapi hoaks di fase krisis dan bencana, pemanfaatan data bencana, dan diskusi panel tentang jurnalisme bencana, psikososial, media center kesiapsiagaan masyarakat.

Sementara untuk hari ketiga, peserta diarahkan ke luar ruangan dengan agenda roleplay (metode penyuluhan berbentuk permainan gerak) yang mensimulasikan keadaan pra-bencana, saat bencana, dan pasca-bencana di lapangan Universitas Muhammadiyah Malut. Setelahnya, peserta kembali ke tempat kegiatan untuk membuat dan mempresentasi reportase hasil roleplay.

Peserta workshop, BPBD Kota Ternate, Pengamat Gunung Api Gamalama, dan warga yang terlibat dalam roleplay

Narasumber dalam workshop tersebut yaitu Kepala BMKG Malut, Sakimin, PMG Penyelia Stasiun Geofisika BMKG Ternate, Basri Kamaruddin, Pengamat Gunung Api Gamalama PVMBG, Iwan Amat, Praktisi Kebencanaan, Renee Picasso Manopo, Kepala Pusdatinkomben BNPB, Abdul Muhari, Kepala Bidang PDSI BNPB, Teguh Harjito, dan dua jurnalis senior, yaitu Budi Nurgiyanto dan Ruslan Sangadji.

Workshop yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan jurnalis dalam memperkaya sudut pandang dalam reportase kebencanaan, memperkuat relasi antara BNPB, BPBD, dan jurnalis di wilayah Malut, dikawal langsung oleh Manajer Program SDC, Constance Jaillet.

Abdul Muhari dalam sambutan sebelum membentuk WAPENA Malut mengatakan, peran media sangat dibutuhkan dalam upaya pengurangan risiko bencana.

Peran jurnalis sangat penting untuk memerangi hoaks dan berita bohong yang kerap menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat. Pada Covid-19 saja tercatat 1.028 hoaks.

“Dengan jurnalis, diharapkan terbangun resiliensi di tengah masyarakat melalui informasi yang dibagikan. Dengan begitu, upaya pengurangan risiko bencana dapat segera kita capai,” pungkasnya.

Diketahui, Malut merupakan Provinsi ke sebelas dibentuknya WAPENA. Sebelumnya BNPD bersama SDC telah membentuk WAPENA di Jawa Barat, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Bali, Aceh, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku. (Mail/red)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini