Catatan 27 Rajab: Isra Mi'raj dan Delay dalam Perjuangan

Sebarkan:
Nurcholish Rustam

Oleh: Nurcholish Rustam

Isra Mi'raj Bukan Dongeng. Ini Kisah Nyata Tentang Lelah, Dikuatkan Lalu Bangkit Lagi

Isra Mi'raj datang ketika Rasulluah lagi jatuh-jatuhnya. Orang yang paling dicintai berpulang. Orang yang paling dilindungi pun pergi.

Tahun ke-7 hingga tahun ke-10 makkiyah, adalah tahun yang paling berat bagi Rasullullah SAW. Itu tahun embargo...

Tapi yang lebih berat lagi bagi Rasulullah adalah wafatnya Khadijah dan Abu Thalib, begitu embargo itu selesai.

Langit Turun Gangan, saat Bumi Terasa Sempit

Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu menembus lapisan langit, dan disetiap lapisannya para Nabi menyambutnya. Ini bukan sekedar pertemuan, melainkan pengakuan.

Lalu perintah shalat diberikan, bukan lewat malaikat, bukan lewat jarak kata, tapi diserahkan langsung oleh-Nya. Karena shalat adalah hubungan paling langsung antara hamba dan Rabb-nya. Shalat bukan sekedar kewajiban, iya hadiah dari perjalanan paling agung. 

Logika Manusia Tidak Akan Sanggup Membaca itu

Setelah perjalanan spiritual itu, grafik sejarah beliau adalah pertumbuhan yang tak bisa dibendung.

Itu dimulai dengan hijrah ke Madinah, kemudian berdirinya negara Madinah, lalu berujung dengan Fathu Makkah atau penaklukan Kota Makkah, dan masuknya seluruh Jazirah Arab ke dalam Islam.

Delay (Penundaan atau Keterlambatan) seperti itu, selalu terjadi dalam sejarah perjuangan nabi-nabi. Delay seperti itu berguna untuk mematangkan jiwa, emosi, pikiran, serta fisik untuk melakukan lompatan yang tak terbendung menuju kemenangan.

Poinnya adalah shalat. Sebab shalat itu lahir dari perjalanan berat, diterima oleh hati yang paling sabar dan ikhlas. Maka rasanya terlalu sayang jika hadiah itu kita abaikan, terlalu perih jika perjuangan Rasulullah kita balas dengan lalai. **

Selamat merayakan Isra Mi'raj 27 Rajab 1447 H

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini