![]() |
| Tangkapan layar ruang tunggu Pelabuhan Kelas III Laiwui, Kecamatan Obi |
Dalam video yang diterima Potretmalut.com, Sabtu (28/02/2026), menunjukan kondisi lantai ruang tunggu tersebut kotor, sampah berupa kardus, kemasan botol air, maupun sampah lain.
Terlihat kursi ditumpuk berserakan di depan ruang kamar mandi. Kursi berbahan besi itu tidak ditempatkan pada tempat yang semestinya.
Kata warga, toilet kotor dan rusak. Nampak pintu masuk ke toilet dipalang menggunakan kayu lapis atau triplek.
Seorang warga lanjut usia, Nasib, mengungkapkan bahwa keberadaan ruang tunggu tersebut tidak layak ditempati. Ia lantas menganalogikan dengan sindiran empat sehat lima sempurna.
"Kalau kami lihat ruang tunggu ini tidak layak. Karena begini, 4 sehat, 5 sempurna, 6 suak (lemas), 7 berbau. Pokoknya kalian lihat sudah kondisi WC seperti apa," tuturnya.
Beberapa warga dari Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah, yang hendak ke Desa Fluk, Kecamatan Obi Selatan, ketika dimintai tanggapan oleh warga setempat mengaku tidak bisa berkata-kata.
"Baru tiba dengan kapal Sabuk Nusantara 84. Tidak tahu mau bilang apa," ucapnya sambil tertawa.
Warga meminta perhatian pemerintah, baik melalui pihak Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) setempat maupun Dinas Perhubungan, agar secepatnya melakukan perbaikan.
"Harapan kami, harus ada WC supaya bisa digunakan. Menyangkut kebersihan tolong lebih diperhatikan," ujar Yuli, warga Desa Wooi, Kecamatan Obi Timur.
Terpisah, Budiman yang juga warga Obi kepada Potretmalut.com, Minggu (1/03/2026) menyesalkan rusaknya fasilitas publik seperti toilet dan kamar mandi di ruang tunggu Pelabuhan Kelas III Laiwui.
Disisi lain, ia mengungkapkan, kantor pos pemantau yang baru dibangun berdampingan dengan kantor ruang tunggu, mirip kapal patroli yang sangat mewah, disertai hiasan lampu-lampu, diduga tanpa ada papan proyek.
"Ibarat kafe, pembangunan kantor pos pemantau tidak ada papan informasi sumber pendanaan. Apakah APBN atau sumber pendapatan lain," imbuhnya.
Bukan hanya itu, Budiman membeberkan, terdapat pembangunan masjid yang sementara berlangsung juga tidak ada papan informasi. Ia mengaku, informasi dari salah satu saksi menyebutkan pembangunan masjid itu bersumber dari patungan pegawai.
"Terlihat beberapa pegawai yang ikut kerja bakti seperti pekerjaan cor dek," akunya.
Upaya konfirmasi Potretmalut.com untuk memintai keterangan lebih lanjut kepada Kepala Kantor UPP Kelas III Laiwui, Suleman Bautu, dan pihak Dinas Perhubungan Halmahera Selatan, masih dilakukan. (Ar/red)
