PT. HARITA Nickel Sudah Bangun Masjid dan Gereja Untuk Ibadah Warga Desa Kawasi

Sebarkan:
Bangunan Gereja Yang Di Bangun PT Harita 

Halmahera Selatan
(Obi) – HARITA Nickel yang terdiri dari PT Trimegah Bangun Persada (PT TBP) dan PT Megah Surya Pertiwi (PT MSP) melalui kegiatan Corporate Social Responsibility-nya (CSR) terus memberikan fasilitas infrastruktur dan pemberdayaan bagi warga di Desa Kawasi. Sejak beroperasi pada tahun 2015, sejumlah kegiatan sudah dilakukan, salah satunya adalah pembangunan dan penyelesaian rumah ibadah seperti masjid dan gereja yang berada di Desa Kawasi.


Manager CSR PT MSP, Khairudin Lubis mengatakan, pengembangan rumah ibadah seperti masjid dan gereja merupakan hal yang paling utama dilakukan perusahaan. Dikatakan, sejak perusahaan beroperasi kedua rumah ibadah tersebut sudah mulai dibangun. 

“Prioritas perusahaan pada saat beroperasi yaitu mendirikan rumah ibadah bagi warga di sekitar Desa Kawasi. Karena kami melihat di desa tersebut memang ada rumah ibadah, namun kondisinya masih belum baik,” kata Khairudin saat dihubungi, Senin (30/7/2018). 

Lelaki yang akrab disapa Rudi itu mengatakan, rumah ibadah yang didirikan yaitu Masjid dan Gereja. Untuk masjid sudah mulai digunakan pada tahun 2017, sedangkan gereja pada tahun 2015. 

Selain itu, program CSR lainnya yang dapat menunjang kegiatan keagamaan diantaranya ikut terlibat dalam kegiatan Maulid Nabi dan juga kegiatan keagamaan lainnya. “Untuk Idul Adha saja pada tahun lalu kami menyediakan 13 ekor sapi yang dibagi ke sejumlah desa di Pulau Obi. Kami juga melakukan kegiatan filantropi untuk perayaan Maulid Nabi,” kata Rudi. 

Sementara itu, H. M. Zoronga (67), warga Desa Kawasi, mengaku keberadaan HARITA Nickel sangat membantu warga di sekitar Desa Kawasi. Zoronga yang merupakan tokoh agama di desa tersebut mengatakan, sebelum adanya HARITA Nickel, kondisi warga di sekitar kurang baik karena pemerintah daerah kurang memperhatikan. 
Bangunan Masjid Yang di Bangun PT. Harita 

“Kalau menceritakan sejarah Kawasi hari ini saya sangat malu, karena itu cerita penduduk miskin di sini. Jadi petani mau jual sayur dimana, jadi nelayan juga jual ikan dimana. Kita bisa mencari tapi tidak bisa dijual. Ini daerah yang tidak dipedulikan, di anak tirikan, kurang perhatian karena terpisah sendiri, berbeda dengan desa-desa yang lain,” kata H. Zoronga.

Untuk tempat ibadah, warga desa Kawasi sebelumnya memiliki masjid. Namun, kondisinya sangat tidak layak untuk melakukan tempat ibadah. Selain tempat yang kecil, masjid tersebut juga tidak memiliki penerangan. 

“Sekarang masjidnya sudah tidak terpakai karena warga lebih senang pergi ke masjid yang didirikan perusahaan. Selain tempatnya baik, masjid dari perusahaan juga lebih luas,” kata H. Zorongan. 

Begitu pula dengan gereja yang ada di Desa Kawasi. Sebagai daerah yang mayoritas penduduknya beragama Kristiani, gereja yang ada saat ini dinilai sudah lebih baik. Karena selain untuk kegiatan ibadah, gereja juga digunakan untuk acara nikahan dan sebagainya. 

“Kami ada gereja tetapi kondisinya juga tidak baik, jadi gereja yang ada dulu dipergunakan untuk gedung serba guna. Dan warga sekitar sekarang menggunakan gerja yang dibangun perusahaan karena lebih bagus dan lebih luas juga, mereka biasanya menggunakannya untuk ibadah dan kegiatan nikahan,” kata H. Zoronga. 

Rahmawati, Ketua Majelis Taklim Masjid An Nur mengatakan bahwa keberadaan perusahaan sangat baik untuk warga, khususnya perempuan di majelis taklim. Dikatakan, perusahaan membuka lahan untuk para perempuan berusaha seperti menjadi petani sayur, membuat kue, serta membuka catering bagi karyawan di perusahaan.  

“Untuk KSU (koperasi serba usaha) saja kebanyakan dari ibu-ibu sini. Kemudian, kalau ada kegiatan keagamaan juga perusahaan bantu dana. Perusahaan juga membuka lahan untuk ibu-ibu yang ingin membuka usaha,” katanya. (snr
Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini