![]() |
| Anggota Komisi III DPRD Halmahera Selatan, Rustam Ode Nuru |
Anggota Komisi III, Rustam Ode Nuru, menilai pertumbuhan ekonomi Kabupaten Halmahera Selatan terus dipamerkan sebagai pencapaian besar, padahal dibalik deretan angka optimistis itu, ada kenyataan pahit.
"PAD justru bergerak lambat. Ketimpangan ini semakin membuka mata publik bahwa perkembangan ekonomi Halmahera Selatan, selama ini tidak benar-benar menetes ke kas daerah," ungkap Rustam, Selasa (18/11/2025) malam.
Rustam menjelaskan, data pertumbuhan ekonomi yang meningkat tiap tahun ternyata belum mampu mengangkat PAD secara signifikan. Sumber pendapatan dari sektor perikanan, pertambangan, hingga pariwisata disebut-sebut sebagai "mesin ekonomi", faktanya belum dikelola secara optimal.
"Potensi besar hanya menjadi slogan, sementara PAD terjebak dalam pola lama yang monoton," terangnya.
Situasi ini membuat Rustam mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam membangun kemandirian fiskal.
"Halmahera Selatan ini kaya, tapi pendapatannya miskin. Kami menilai, pemerintah terlalu nyaman dengan transfer pusat, sehingga kreativitas pengelolaan sektor unggulan mandek," ujarnya.
Rustam mengungkapkan, ketertinggalan PAD ini semakin mencolok ketika dibandingkan dengan geliat aktivitas ekonomi masyarakat. Perputaran uang besar di sektor nonformal, geliat investasi swasta, hingga ekspansi perusahaan tambang semuanya tidak berbanding lurus dengan kenaikan PAD.
"Ironisnya daerah hanya menjadi penonton di tengah pesta ekonomi yang berlangsung di rumahnya sendiri. Tekanan publik makin kuat, Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan sekarang dipaksa berinovasi, tidak bisa lagi mengandalkan mekanisme lama yang tidak relevan dengan perkembangan ekonomi hari ini," sebut Rustam.
Lebih lanjut, Rustam mengemukakan bahwa reformasi sistem pajak dan retribusi daerah, digitalisasi layanan ekonomi, pengawasan sektor tambang, serta optimalisasi aset daerah menjadi agenda mendesak yang tak bisa ditunda.
"Jika pemerintah terus berjalan lambat, maka PAD akan terus merana. Sementara ekonomi terus tumbuh tanpa memberi dampak riil ke pendapatan daerah. Kini, bola panas ada di tangan pemerintah daerah," tambahnya.
Di tengah tekanan publik dan kenyataan fiskal yang semakin menantang, Halmahera Selatan dituntut untuk bergerak cepat, kreatif, dan berani melakukan terobosan.
"Jika tidak, jurang antara pertumbuhan ekonomi dan PAD akan semakin melebar, dan rakyat Halmahera Selatan tak akan merasakan manfaat dari tanah kaya yang mereka pijak," tutupnya. (Ar/red)
