 |
| Istimewa |
TERNATE, PotretMalut - Tensi menjelang Musyawarah Daerah Luar Biasa (Musdalub) Himpunan Pengusaha Muda
Indonesia (HIPMI) Maluku Utara, kian memanas. Gelaran yang seharusnya menjadi panggung kebangkitan pengusaha muda ini, justru diguncang isu miring terkait dugaan manuver liar "cawe-cawe", hingga transaksional demi keuntungan pribadi.
Dua nama mantan petinggi HIPMI Malut, yakni Bahtiar Kader (Mantan Ketua Umum 2019-2022) dan Mohdar Bailusy (Mantan Ketua OKK 2022-2025), menjadi sorotan. Keduanya dituding oleh sejumlah Pengurus Badan Pengurus Cabang (BPC) kabupaten/kota tengah memainkan skenario kotor di balik layar.
Mohdar yang saat ini masuk dalam tim caretaker bentukan BPP HIPMI untuk mengawal Musdalub, diduga kuat menyalahgunakan wewenangnya. Informasi dari internal BPC menyebutkan, Mohdar sempat menggelar pertemuan rahasia dengan pihak yang mengklaim sebagai kerabat dari anak Bahlil Lahadalia di Ternate.
"Diduga kuat ada aliran dana puluhan juta rupiah yang diambil dalam pertemuan itu. Imbalannya, Mohdar menjanjikan posisi strategis seperri Sekretaris Umum atau Bendahara Umum HIPMO Malut setelah Musdalub selesai," ungkap beberapa pengurus BPC yang enggan disebut namanya, Selasa (26/05/2026).
Tak berhenti di situ, jejaring "cawe-cawe ini disinyalir meluas ke bursa calon ketua umum. Mohdar dikabarkan menginisiasi pertemuan antara bakal calon ketua umum Imran Guricci dengan Rio C. Pawane, yang saat ini menjabat sebagai Wakil Bupati Pulau Morotai.
Dalam pertemuan tersebut, Imran yang mengantongi rekomendasi dari BPC Halmahera Selatan, dirayu untuk melunal dan bergabung dengan kubu Rio.
"Imran Guricci dijanjikan kursi Sekretaris Umum jika Rio terpilih. Kami menduga pergerakan Mohdar ini tidak berdiri sendiri, melainkan sudah direncanakan matang bersama Bahtiar Kader," tambah perwakilan BPC.
Gaya "bagi-bagi kue" kekuasaan ini juga menyeret nama seorang figur perempuan bernama Wulan. Mohdar dikabarkan ikut mengunci komitmen dengan Wulan dan menggaransi posisi Bendahara Umum, dengan syarat yang sama: kemenangan berada di tangan Rio.
Rentetan dugaan pertemuan transaksional ini dinilai murni mencerminkan orientasi personal pragmatis yang merusak marwah organisasi, bukan demi memajukan iklim usaha di Maluku Utara.
Melihat situasi yang kian keruh, sejumlah BPC HIPMI di Maluku Utara mengaku geram dan melayangkan kritik keras. Mereka mempertanyakan integritas tim caretaker yang seharusnya bersikap netral dan menjadi penengah yang adil.
"Tidak ada semangat perbaikan organisasi. Mereka berdua (Mohdar dan Bahtiar) sudah membuat HIPMI Malut rusak, sampai-sampai Musda harus diulang hingga tiga kali. Jika orang-orang seperti ini masih diberi ruang mengendalikan Musdalub, masa depan pengusaha muda di sini akan hancur," tegas perwakilan BPC dengan nada kecewa.
Hingga berita ini diturunkan, jalannya Musdalub HIPMI Malut kini dibayangi mosi tidak percaya. Para kader muda daerah mendesak BPP HIPMI pusat untuk turun tangan membersihkan oknum-oknum yang dinilai memberi "tamparan keras" bagi reputasi pengusaha di Maluku Utara. (Tim/red)