![]() |
| Negosiasi antara ahli waris, aparat, dan perwakilan perusahaan pada Sabtu 21 November |
Dalam video tersebut terlihat keributan antara warga dan beberapa personel keamanan perusahaan, termasuk dugaan teriakan ancaman "tembak-tembak" dari koordinator BKO sekurity berinisial O alias Okto.
Sarka yang menyaksikan langsung video itu menyatakan kemarahan dan penolakannya atas tindakan tersebut.
"Video itu jelas menunjukkan arogansi. Sekuritiy Harita bertindak seperti preman, bukan aparat keamanan perusahaan. Bentak-bentak warga, bahkan terdengar ancaman ‘tembak’? Ini sangat memalukan dan tidak beradab," ujar Sarka, Minggu (23/11/2025).
Menurutnya, apa yang terjadi di Kawasi bukan hanya konflik lahan, tetapi bentuk penghinaan terhadap martabat warga.
"Saya melihat sendiri videonya. Warga hanya mempertahankan tanah leluhur mereka, tapi diperlakukan seperti kriminal. Ini bukan investasi, ini teror psikologis terhadap masyarakat Kawasi," ungkapnya.
Sarka menilai, perusahaan sebesar PT Harita Group tidak boleh menggunakan pendekatan intimidatif terhadap masyarakat yang justru paling terdampak oleh aktivitas industri.
"Perusahaan sekelas Harita harusnya punya standar etika dan SOP yang jelas. Kalau sekurity mereka bisa seenaknya bentak warga dan keluarkan ancaman, berarti ada masalah serius dalam manajemen keamanan perusahaan," tambahnya.
Ia juga menegaskan, bahwa negara tidak boleh membiarkan praktik seperti ini berlangsung tanpa pengawasan.
"Negara tidak boleh kalah oleh perusahaan. Sekurity tidak boleh merasa lebih berkuasa dari rakyat di tanahnya sendiri," pungkasnya. (Ar/red)
