Formapas Malut Layangkan 4 Desakan Tegas Terkait Pembunuhan OTK di Halteng

Sebarkan:
Ketua Umum PP Formapas Malut, Riswan Sanun
JAKARTA, PotretMalut - Ketua Umum Pengurus Pusat Forum Mahasiswa Pascasarjana Maluku Utara (Formapas Malut), Riswan Sanun, mendesak Polda Maluku Utara dan Polres Halmahera Tengah untuk segera mengusut tuntas kasus pembunuhan brutal yang terjadi di wilayah Patani Barat.

Desakan ini mencuat setelah peristiwa tragis yang menewaskan seorang warga Desa Bobane Jaya, Kecamatan Patani Barat, yang ditemukan di area perkebunan.

Korban diduga kuat menjadi sasaran pembunuhan oleh Orang Tak Dikenal (OTK), yang menambah daftar panjang teror berdarah yang menghantui masyarakat setempat.

Riswan menegaskan bahwa aparat penegak hukum tidak boleh lagi lambat dalam menangani rangkaian kekerasan yang terus berulang.

"Ini bukan kejadian pertama. Teror pembunuhan di wilayah hutan Patani sudah berulang kali terjadi tanpa penyelesaian yang jelas. Kami menilai aparat keamanan gagal memberikan rasa aman kepada masyarakat," tegas Riswan dalam keterangannya, Jumat (03/04/2026).

Menurut Riswan, pola kekerasan ini bukan lagi sekadar kriminal biasa, melainkan sudah mengarah pada teror sistematis yang mengancam keselamatan warga sipil, khususnya para petani yang menggantungkan hidup di hutan.

Atas dasar itu, Formapas Maluku Utara secara tegas mengeluarkan empat tuntutan utama:

1. Polda Maluku Utara harus turun langsung mengambil alih penanganan kasus dan membentuk tim khusus untuk memburu pelaku.

2. Polres Halmahera Tengah segera melakukan penyisiran menyeluruh di wilayah hutan Patani Barat dan titik-titik rawan lainnya.

3. Negara wajib menjamin keamanan warga, terutama di wilayah pedesaan dan kawasan perkebunan yang kini menjadi zona rawan.

4. Evaluasi total kinerja aparat keamanan di Halteng, karena dinilai gagal mengantisipasi teror yang terus berulang.

Riswan menilai, misteri keberadaan pelaku yang hingga kini belum terungkap menunjukkan adanya kelemahan serius dalam sistem keamanan.

Sejumlah kejadian serupa sebelumnya juga menelan korban jiwa dengan pola yang hampir sama, yakni terjadi di kawasan hutan dengan pelaku yang tidak teridentifikasi. 

"Negara tidak boleh kalah dengan teror. Kalau aparat terus gagal mengungkap pelaku, maka ini menjadi preseden buruk bagi negara. Warga hidup dalam ketakutan, sementara pelaku bebas berkeliaran. Ini tidak boleh dibiarkan," ujarnya.

Formapas menyatakan akan mengawal kasus ini hingga tuntas, dan tidak menutup kemungkinan akan melakukan aksi nasional sebagai bentuk tekanan terhadap penegak hukum.

Meski menuntut tindakan tegas, Riswan juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terprovokasi. Ia mengajak warga untuk menjaga kerukunan dengan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur Fagogoru.

"Kami meminta agar masyarakat menjaga keamanan dan ketertiban, serta terus berpegang pada nilai-nilai Fagogoru," pungkasnya. *
Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini