![]() |
| Aparat TNI-Polri Mengamankan Konflik Antar Warga Banemo-Sibenpopo |
Pesan damai ini disampaikan bertepatan dengan momentum Jumat Agung, 3 April 2026, di Lelilef. Pendeta Heri yang juga menjabat sebagai Pimpinan Jemaat GPdI Ekklesia Lelilef Sawai, menekankan empat poin utama guna meredam ketegangan di wilayah tersebut:
1. Menahan Diri dan Kembali ke Nilai Fagogoru
Pendeta Heri meminta masyarakat, khususnya warga Desa Sibenpopo dan Banemo, agar tidak terpancing emosi dan tidak memperluas cakupan konflik. Ia mengingatkan bahwa seluruh masyarakat Halteng hidup dalam bingkai nilai budaya Fagogoru yang menjunjung tinggi semangat persaudaraan dan kebersamaan.
2. Percayakan Proses Hukum dan Perbanyak Doa
Kepada umat Kristiani di Halmahera Tengah, ia menginstruksikan agar menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus ini kepada pihak kepolisian dan TNI. Masyarakat diminta menjauhi segala bentuk provokasi atau hasutan yang dapat merusak kerukunan kekeluargaan.
"Mari kita kedepankan doa dalam menghadapi situasi ini agar kedamaian segera pulih," ujarnya.
3. Desakan Tindakan Cepat Aparat dan Pemerintah
Ia juga meminta Pemerintah Daerah serta jajaran TNI-Polri untuk segera mengambil langkah yang cepat, tegas, dan efektif. Upaya ini dinilai krusial untuk meminimalisir dampak konflik serta menyelesaikan akar permasalahan secara tuntas dalam waktu singkat.
4. Menjaga Kerukunan di Tanah Fagogoru
Sebagai penutup, ia mengajak seluruh elemen masyarakat tanpa terkecuali untuk terus berkomitmen hidup berdampingan secara damai demi menjaga stabilitas keamanan di Tanah Fagogoru.
Imbauan ini diharapkan dapat mendinginkan suasana dan mengembalikan rasa aman bagi warga di Halmahera Tengah, mengingat pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman masyarakat Maluku Utara. (Calu/red)
