![]() |
| Ketua DPD PAN Halmahera Selatan, Irfan Djalil |
Kontroversi ini bermula saat chat AK di grup WhatsApp DPC GAMKI Halmahera Utara bocor ke publik. Kalimat mengerikan seperti "baku bunuh sudah, minta keamanan los" dan "supaya dong tau bahwa tong me siap" tertulis jelas di sana.
Pernyataan ini sontak memicu kemarahan warganet. Banyak yang menilai ucapan tersebut tidak pantas keluar dari seorang wakil rakyat yang seharusnya mendinginkan suasana, bukannya malah menyulut api perpecahan.
Tak berhenti di situ, AK juga menyerang agenda intelektual bedah buku berjudul "Perlawanan Rakyat Galela di Halmahera Utara 1946–1949". Padahal, acara tersebut digelar di kediaman Wakil Bupati Halmahera Utara sebagai upaya edukasi sejarah.
Dengan nada merendahkan, AK menyebut diskusi buku tersebut sebagai "kegiatan tai" dan "foya-foya saja", serta mengajak orang-orang untuk memboikot acara tersebut. Hinaan ini dianggap sebagai tamparan keras bagi dunia literasi dan tokoh intelektual di Maluku Utara.
Reaksi keras datang dari Ketua DPD PAN Halmahera Selatan, Irfan Djalil, S.Pi. Ia mengecam keras perilaku AK yang dianggap jauh dari etika politik dan berpotensi memicu konflik sosial yang luas.
"Ini jelas bentuk provokasi yang merusak ruang demokrasi. Dr. Kasman Hi Ahmad bukan hanya seorang intelektual, tapi juga Ketua DPW PAN Maluku Utara. Kami mengutuk keras pernyataan ini. Diskusi buku adalah kegiatan terhormat yang harus didukung, bukan malah dilecehkan dengan kata-kata kotor," tegas Irfan, Senin (30/03/2026).
Irfan meminta pimpinan DPRD Maluku Utara dan partai yang menaungi AK, untuk tidak tinggal diam. Ia mendesak adanya langkah disiplin yang nyata demi menjaga marwah lembaga legislatif.
"Jangan biarkan polemik ini berkepanjangan. Harus ada tindakan tegas agar masyarakat tahu bahwa perilaku arogan dan provokatif seperti ini tidak punya tempat di Maluku Utara," pungkasnya. (Ibnu/red)
