![]() |
| Terlihat karung berisi pasir yang dijadikan warga sebagai talud darurat |
Selama puluhan tahun, sekitar 11 rumah warga dan satu musala di wilayah tersebut terus dihantui rasa takut, terutama saat pasang air laut dan musim ombak melanda.
Dampak abrasi di wilayah ini tergolong ekstrem dan mengancam keselamatan jiwa. Dulu, jarak rumah warga dengan bibir pantai mencapai 10 hingga 15 meter. Sekarang, jarak rumah dengan air laut hanya tersisa 3 sampai 5 meter.
Bahkan disebutkan air laut bisa langsung menjebol dan masuk ke dalam rumah warga saat ombak besar.
Warga mengaku kecewa karena aspirasi mereka selama puluhan tahun tidak pernah direspons oleh Pemerintah Kota Ternate maupun Pemerintah Provinsi Maluku Utara.
"Mereka hanya datang, lihat, lalu foto-foto. Sampai hari ini tidak ada tindak lanjut," ujar Jono Hangi, salah satu warga terdampak yang rumahnya menjadi langganan banjir rob, Selasa (19/05/2026)
Akibat ketiadaan talud atau pemecah ombak (breakwater), warga terpaksa bergantian terjaga setiap malam.
"Kalau musim ombak kami tidak bisa tidur nyenyak, siang maupun malam. Kami harus saling menjaga kalau-kalau air masuk rumah," tambah Jono.
Keluhan senada disampaikan oleh Rosita Into. Ia sangat berharap Gunernur Sherly Tjoanda, sebagai sosok pemimpin perempuan, mau peduli dan turun langsung melihat penderitaan mereka.
"Kami sangat berharap Ibu Sherly bisa bantu buatkan talud. Supaya kalau musim ombak tiba, kami bisa tidur nyenyak," harap Rosita.
Warga RT.08/RW.03 Kelurahan Rua kini menaruh harapan besar pada kepedulian Sherly Tjoanda untuk menghadirkan solusi konkret yang gagal diberikan oleh pemerintah daerah selama bertahun-tahun. (Tim/red)
