![]() |
| Ketua BEM FIB Unkhair, Arya Fitrah R. Nadjar |
Kasus ini mencuat setelah beredarnya sebuah video berdurasi 1 menit 3 detik yang diunggah melalui akun TikTok milik oknum ASN tersebut. Dalam video itu, calon mahasiswa secara eksplisit diarahkan untuk mentransfer sejumlah uang dan mengirimkan bukti transfer melalui WhatsApp agar bisa memperoleh 'soal bocoran' ujian masuk perguruan tinggi negeri.
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unkhair, Arya Fitrah R. Nadjar, menilai tindakan tersebut sebagai bentuk penyalahgunaan kewenangan yang serius dan mencederai prinsip keadilan dalam dunia pendidikan.
"Ini bukan soal nominal Rp 15.000. Ini soal praktik pemerasan, manipulasi, dan penipuan yang dilakukan oleh seorang ASN. Tindakan ini mencoreng nama baik institusi dan merusak kepercayaan publik terhadap sistem seleksi nasional," tegas Arya.
Lebih lanjut, Arya menyoroti narasi menyesatkan dalam video tersebut. Oknum ASN itu menyebutkan kuota jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) hanya 20 persen dan jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 40 persen, sembari menggiring calon mahasiswa dengan janji iming-iming bocoran soal agar dapat lolos seleksi.
Menurut BEM FIB, praktik tersebut jelas bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang Aparatur Sipil Negara, yang menekankan integritas, profesionalisme, dan netralitas ASN. Selain itu, tindakan tersebut juga melanggar Peraturan Pemerintah Nomor 94 Tahun 2021 tentang Disiplin ASN serta PP Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik ASN.
Arya menegaskan bahwa SNPMB adalah proses seleksi nasional yang sepenuhnya gratis dan tidak membenarkan pungutan dalam bentuk apapun. Oleh karena itu, setiap upaya menarik biaya dengan dalih apapun merupakan pelanggaran serius dan dapat dikategorikan sebagai pungli.
BEM FIB Unkhair mendesak rektorat untuk tidak bersikap pasif dan segera mengambil langkah tegas berupa sanksi berat terhadap oknum ASN tersebut. Mereka menilai pembiaran hanya akan memperkuat budaya impunitas di lingkungan kampus.
"Jika pihak rektorat tidak segera bertindak, kami akan mengonsolidasikan mahasiswa lintas fakultas dan menggelar aksi besar-besaran. Kampus tidak boleh menjadi ruang aman bagi praktik kotor dan penyalahgunaan wewenang," tutup Arya.
Sementara, S saat dikonfirmasi menyebutkan tidak ada unsur pemerasan. Dirinya hanya membantu calon mahasiswa agar lebih mudah dan murah mengakses soal-soal latihan SNBP.
"Saya akses soal melalui ebook untuk beberapa tahun belakangan, semuanya berbayar. Saya hanya membantu calon mahasiswa agar lebih murah mendapatkan contoh soal," ungkapnya.
Ia menegaskan, hanya dengan harga Rp 15.000, itu sudah sangat murah. Jika para calon mahasiswa mau mengakses langsung melalui aplikasi, tentu akan lebih mahal.
"Di dalam video TikTok saya tidak ada pemaksaan, saya hanya menawarkan," terangnya. (Tim/red)
