Ingat Banjir 2016, Warga Obi Akan Gelar Aksi Hentikan Aktivitas PT Poleko Yubarsons

Sebarkan:
Konvoi Aliansi Masyarakat Obi
HALSEL, PotretMalut - Kritik terhadap PT Poleko Yubarsons terus membesar di Kecamatan Obi. Masyarakat menuntut tanggung jawab perusahaan atas dampak yang dinilai merugikan warga, sekaligus mendesak evaluasi terhadap Camat Obi, Ali Lajaharia, dan sejumlah kepala desa di wilayah setempat yang dituding berkolusi dengan pihak perusahaan.

Aksi konvoi Aliansi Masyarakat Obi yang digelar pada Minggu (22/2/2026), dipimpin Ketua MPC Pemuda Pancasila Kecamatan Obi, Safrin Alimudi.

Ini menjadi momentum kebangkitan kesadaran kolektif masyarakat. Di atas truk komando, Safrin menyampaikan orasi lantang yang menggugah emosi warga di sepanjang jalan yang dilalui konvoi.

"Jangan kita diam, ingat banjir 2016, ingat rumah-rumah yang terendam, ingat air lumpur yang masuk sampai ke dapur dan kamar tidur orang tua kita. Kalau hari ini kita tidak bersuara, maka kita sedang menggali kubur untuk masa depan anak cucu kita sendiri," teriak Safrin disambut pekikan massa.

Ia juga mengingatkan masyarakat terutama warga Desa Laiwui, Buton, Akegula, Jikotamo, dan Desa Baru, agar bersatu dan hadir pada Rabu 24 Februari, dalam aksi demonstrasi besar-besaran yang akan menjadi puncak perlawanan rakyat Obi.

"Hari Rabu 24 Februari 2026, kita turun besar-besaran, kita tuntut hentikan seluruh aktivitas PT Poleko Yubarsons di tanah Obi. Kita minta Bupati Halmahera Selatan segera evaluasi Camat Obi dan para kepala desa yang diduga berkolusi dengan perusahaan. Pemerintah harus berdiri di pihak rakyat, bukan di belakang perusahaan," tegasnya.

Konvoi berhenti di perempatan Desa Buton, Kecamatan Obi. Suasana berubah haru ketika seorang warga yang dikenal dengan sapaan Om Lantimu, tampak meneteskan air mata saat mendengar orasi tersebut.

Budiman, salah satu peserta konvoi, menghampiri dan menanyakan alasan kesedihannya. Dengan suara bergetar, Om Lantimu mengenang peristiwa banjir 2016 yang merendam rumahnya semalaman.

"Saya ingat banjir yang melanda rumah saya. Itu bukan cuma air, tapi lumpur dan rumput ikut masuk. Rumah saya terendam semalam. Kulkas, televisi, boslak semua rusak. Saya ini sudah tua, saya cuma punya bantal, boslak, dan beras tiga kilo semua ikut terendam," ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Ia juga mengaku bantuan yang diterimanya saat itu sangat minim.

"Pemerintah hanya kasih tiga bungkus supermi, satu teh kotak, satu liter minyak kelapa, itu saja. Dari PT Poleko Yubarsons tidak ada apa-apa yang kami terima," tambahnya lirih.

Kesaksian tersebut semakin menguatkan tekad peserta konvoi. Bagi masyarakat, tragedi banjir 2016 adalah luka yang belum sembuh dan tidak boleh terulang. Mereka menilai dugaan pembiaran dan kolusi antara oknum pemerintah kecamatan dan perusahaan sebagai ancaman serius bagi keselamatan rakyat.

Safrin menegaskan, demonstrasi 24 Februari nanti akan membawa dua tuntutan utama:

1. Menghentikan seluruh aktivitas PT Poleko Yubarsons di wilayah Obi.

2. Meminta Bupati Halmahera Selatan, Hasan Ali Basam Kasuba, segera mengevaluasi Camat Obi dan para kepala desa yang diduga berkolusi dengan perusahaan.

Masyarakat berharap pemerintah daerah segera merespons aspirasi tersebut, sebelum ketegangan sosial semakin meluas. (Ar/red)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini