Kades Tului Nyatakan Pengunduran Diri Usai Dialog Soal Dana Desa

Sebarkan:
Dialog antara Pemerintah Desa Dengan Masyarakat Desa Tului
TIKEP, PotretMalut - Suasana aula pertemuan Desa Tului, Kecamatan Oba, berubah drastis pada Sabtu (28/03/2026). Niat hati ingin memberikan klarifikasi, Rusdi Kubais selaku Kepala Desa Tului, dikabarkan mengundurkan diri tepat setelah dicecar berbagai pertanyaan kritis oleh warganya sendiri.

Awalnya, ketegangan ini dipicu oleh rencana aksi massa yang digalang pemuda setempat. Namun, demi menjaga kondusivitas, agenda dialihkan menjadi dialog terbuka. Pemuda Desa Tului, Sartono Halek, mengungkapkan bahwa forum ini sejatinya bertujuan mengevaluasi kinerja Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) agar lebih transparan.

Hujan Kritik: Dari Bodi Fiber hingga Lampu Jalan 100 Juta

Meski dimulai dengan tertib, tensi diskusi meroket saat warga mulai membongkar sejumlah kejanggalan pengelolaan dana desa. Beberapa poin panas yang menyudutkan pemerintah desa antara lain:

Proyek "Tanpa Identitas": Pengadaan bodi fiber yang tidak mencantumkan nama kegiatan maupun tahun anggaran, memicu kecurigaan soal transparansi.

Bisnis WiFi Kades: Pengelolaan fasilitas WiFi desa yang diduga dikelola pribadi oleh Kades tanpa payung hukum jelas, termasuk praktik penjualan voucher ke warga.

Fungsi Pengawasan Mandul: Pembangunan jalan tani diduga melenceng dari RAB. Mirisnya, pihak BPD mengaku tidak mengantongi dokumen RAB tersebut.

Air Bersih yang "Mogok": Proyek air bersih di Dusun 1 hanya bertahan sebulan. Warga bahkan harus patungan membeli pompa baru karena mesin lama rusak tanpa perbaikan dari desa.

Anggaran Lampu Jalan Fantastis: Warga mempertanyakan pengadaan 4 unit lampu jalan yang menelan biaya Rp100 juta. Terungkap dalam forum, proyek ini disebut-sebut merupakan arahan mantan Wali Kota Tidore Kepulauan, Ali Ibrahim.

Mundur di Tengah Gelanggang

Terpojok oleh rentetan mosi tidak percaya, Rusdi Kubais secara mengejutkan menyerahkan surat pengunduran diri langsung kepada masyarakat begitu dialog ditutup.

Namun, langkah "instan" sang Kades ini justru menuai kritik baru. Warga menilai aksi mundur tersebut tidak elegan dan menyalahi prosedur birokrasi.

"Harusnya surat itu disampaikan ke BPD atau pihak berwenang, bukan langsung dilempar ke masyarakat. Ini bukan sekadar mundur, tapi ada tanggung jawab anggaran yang harus diselesaikan," cetus salah satu warga di lokasi.

Kini, bola panas pengunduran diri Kades Tului berada di tangan otoritas terkait, sementara warga menanti kejelasan atas berbagai dugaan penyimpangan anggaran yang telah dibongkar dalam dialog tersebut. (Calu/red)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini