![]() |
| Pembukaan Workshop dan Diskusi pembuatan Kursi Bambu |
Kegiatan yang dipusatkan di Kelurahan Tongole, Kecamatan Ternate Tengah ini mengusung tema "Transformasi Bambu Sebagai Warisan Budaya Menjadi Produk Kreatif Bernilai Ekonomi dan Berkelanjutan" dengan subtema "Dari Hutan ke Ruang Tamu".
Kegiatan yang diinisiasi oleh Rasno Ahmad, salah satu pemuda Kelurahan Moya, dibuka secara resmi oleh Kasubag Umum BPKW XXI Maluku Utara, Stenly R. Loupatty. Acara ini juga dihadiri oleh Camat Ternate Tengah, Lurah Tongole, serta kalangan mahasiswa, pelajar, dan masyarakat setempat.
Sejumlah narasumber kompeten dihadirkan dalam workshop ini, antara lain akademisi Universitas Khairun (Unkhair) Ternate Dr. Muhtar Adam, akademisi ISDIK Maluku Utara Taufik H. Taher, dan Sekretaris Dinas Kebudayaan Rinto Taib.
Rasno, menyampaikan bahwa bambuatau yang dalam bahasa sehari-hari disebut 'Bulu' bukan sekadar bahan baku untuk membuat kursi. Lebih dari itu, bambu telah menjadi identitas dan jati diri masyarakat Tongole yang wajib dirawat, dijaga, serta dilestarikan.
Oleh karena itu, Rasno berharap adanya perhatian khusus dari pemerintah, mulai dari tingkat kelurahan hingga Pemerintah Kota Ternate.
"Kelurahan Tongole sebagai kampung bambu kedepan perlu mendapatkan perlindungan hukum, terutama melalui Hak Kekayaan Intelektual (HKI) agar tidak diklaim di tempat atau daerah lain, kemudian menjadi perhatian bersama," ujar pemuda asli Ternate tersebut, Selasa (21/07/2026).
Rasno juga menambahkan bahwa dirinya mendapatkan tantangan menarik dari salah satu narasumber untuk menghadirkan Kampung Budaya di Ternate. Format dari kampung tersebut nantinya akan disusun matang tanpa menghilangkan identitas budaya asli yang ada di sana.
Pada sambutan pembukaannya, Kasubag Umum BPKW XXI Maluku Utara Stenly R. Loupatty mengapresiasi kegiatan ini. Ia menilai industri kerajinan kursi bambu memiliki prospek yang sangat menjanjikan sebagai sektor ekonomi kreatif berbasis budaya.
Menurut Stenly, workshop ini tidak hanya memperkuat pengetahuan masyarakat tentang warisan budaya, tetapi juga membuka peluang besar dalam peningkatan kesejahteraan warga.
"Melalui diskusi seperti ini, diharapkan juga mendorong pelaku usaha memanfaatkan pasar digital agar produk kursi bambu dapat dipasarkan hingga ke luar daerah. Dengan begitu, kerajinan bambu dapat menjadi sumber pendapatan ekonomi yang berkelanjutan," jelas Stenly.
Stenly berharap kegiatan ini mampu menjadi motivasi sekaligus pemantik bagi generasi muda untuk terus mengembangkan potensi bambu di Kelurahan Tongole. Selain menjaga kelestarian budaya lokal, pengembangan kerajinan ini diyakini mampu mendongkrak perekonomian masyarakat secara jangka panjang. (Red/PM)
