Oleh: Nurcholish Rustam
(Ketua Rampai Nusantara Malut)
ISTILAH konstelasi merujuk pada dunia perbintangan. Bukan kaitannya dengan konteks ramal-meramal, tetapi lebih pada dunia astronomi yang sebenarnya. Lihatlah catatan wikipedia berikut; 'Rasi bintang adalah sekelompok bintang yang saling terhubung membentuk suatu sosok atau gambar. Istilah ini juga digunakan secara tradisional dan kurang formal untuk menyebut kelompok bintang manapun yang nampak saling berkaitan, jika bintang-bintang tersebut dianggap sebagai konfigurasi atau pola tetap dalam budaya tertentu'.
Dalam sejarahnya, manusia memiliki kemampuan mengenali pola dan pengelompokan bintang-bintang yang tampak berdekatan menjadi rasi-rasi atau konstelasi-konstelasi perbintangan, yang secara tradisional dimanfaatkan sebagai petunjuk arah di malam hari sebelum ditemukan kompas.
Kemudian istilah itu dipinjam dalam dunia politik. Saking seringnya "konstelasi" dikaitkan dengan "politik", bahkan kita sering lupa dengan konteks konstelasi perbintangan. Istilah "konstelasi politik" inilah yang belakangan ramai dibicarakan ditingkat lokal menyusul adanya statemen Gubernur Maluku Utara tetang pinjaman 1 Triliun Rupiah, atau bahkan ditingkat pusat ada program Prabowo-Gibran tentang Makanan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Meminjam ucapan dari salah satu teman advokat "konstelasi politik bisa berubah kapan saja, tergantung para aktor memainkan perannya".
Berbagai pengamat telah mengomentari situasi ini khususnya "Pinjaman 1 T" tersebut dari berbagai sudut pandang masing-masing. Timbul pertanyaan; Apakah dalam 2 tahun kepemimpinan Sherly Tjoanda menunjukkan adanya trend perubahan konstelasi politik? Inilah yang masih menjadi bahan perbincangan ditengah masyarakat, khususnya para aktivis dan praktisi.
Namun secara garis besar terdapat beberapa hipotesa yang dapat dicatat, antara lain (1) Sebagai Gubernur perempuan tentu memiliki gaya komunikasi yang to the point. (2) Pertimbangan plus-minus figur ternyata masih sangat penting dalam konteks pengambilan kebijakan. (3) Penampilan secara personal dan kekuatan media sosial menjadi instrumen penting dalam menggerakan basis politik. (4) Sherly membuka ruang komunikasi yang luas, tapi yang berkomunikasi harus didasari dengan data yang valid.
Asumsi lain yang tak kalah menarik, sesungguhnya masyarakat menghendaki (Tanpa mengabaikan hal-hal prinsipil) adanya suatu perubahan besar pasca 'tsunami politik' yang berakibat pada konsekuensi hukum yang dialami mantan gubernur sebelumnya. Dengan ditopangnya dukungan sumber daya dan kekuatan media sosial, membuat sang srikandi berhasil meraih hati masyarakat Maluku Utara yang memberikan respon positif dengan gaya kepemimpinannya.
Terkait dengan pinjaman 1 T, walaupun masih dalam tahapan pembahasan sengit, tentu ini sangatlah mengagetkan bagi sebagain kalangan. Masih teringat jelas ketika pada masa kampanye lalu, dengan semangat yang berapi-api, Sherly Tjoanda menyampaikan akan membawah anggaran (APBN) ke daerah.
Janji kampanye tersebut membuatnya melesat jauh sebagai pemenang, apalagi support system dari media sosial membuatnya tak tertandingi di dunia maya maupun dunia nyata, terkhusus kalangan menengah kebawah, bahkan bukan hanya dari Maluku Utara, dari provinsi lain se-nusantara ini terpikat dengan setiap langkah, ucapan, bahkan tatapan sang gubernur.
Dan ini membuat namanya masuk dalam bursa menteri bahkan cawapres 2029 nanti. Makanya ketika awal-awal wacana pinjam 1 T muncul hingga menjadi perdebatan diruang publik hingga para legislator provinsi, ini belum mempengaruhi atau mengurangi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Sherly, vote getter masih tetap terjaga.
Dalam situasi seperti itu, Sherly sebagai gubernur juga tidak boleh mengesampingkan saran dan kritik dari beberapa praktisi sebagai respon atas langkah gubernur. Lantas dimana posisi DPRD? Lembaga super body tersebut tentu sudah punya simulasi terkait dengan pinjaman itu, baik jangka pendek, menengah atau jangka panjang. Segalanya harus dipertimbangkan, seperti dalam istilah ilmu kedokteran "kita perlu mendiagnosa terlebih dahulu".
Dengan kondisi negara seperti ini, tentu kita harus mampu membaca tanda-tanda bahwa perubahan konstelasi bisa terjadi kapan saja. Sherly Tjoanda adalah fenomena politik yang layak diperhitungkan. Lepas dari itu, baiknya kita lihat saja apakah fenomena kepemimpinannya merupakan suatu kebutulan ataukah kecenderungan. Saya jadi teringat dengan ucapan Benazir Bhutto mantan PM Pakistan; 'tetapkan tujuan yang jelas, lalu berlayarlah dengan penuh keyakinan'. **
Selamat Ulang Tahun yang ke 44 Tahun Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos.
