![]() |
| Ketua RN Maluku Utara, Nurcholish Rustam |
Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Rampai Nusantara Maluku Utara, secara terbuka menyatakan respons positif mereka, dengan menegaskan bahwa esensi dari wacana ini adalah jeritan daerah yang menuntut keadilan fiskal, bukan sebuah gerakan untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Ketua Rampai Nusantara, Nurcholish Rustam, mengungkapkan bahwa gagasan sistem federal tidak muncul dari ruang hampa. Ada kegelisahan mendalam di tingkat daerah mengenai masa depan masyarakatnya, mulai dari aparatur sipil negara (ASN), pemerintah daerah, hingga rakyat kecil seperti tukang ojek, nelayan, dan petani, yang semuanya terdampak langsung oleh kebijakan pemerintah pusat.
"Daerah hanya butuh satu saja, yaitu keadilan. Pemerintah pusat harus melihat masalah ini secara utuh. Bukan berarti bersuara tentang Sistem Federal lantas ingin pisah dari NKRI, sama sekali tidak. Lihat akar masalahnya, hanya keadilan yang kami minta," tegas pria yang akrab disapa Cholis ini, Rabu (19/08/2026).
Cholis kemudian menyoroti ironi yang terjadi di Maluku Utara. Sebagai wilayah yang dianugerahi kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) yang luar biasa, sumbangsih Maluku Utara terhadap kas negara dinilai tidak berbanding lurus dengan apa yang mereka terima kembali.
"Dana Bagi Hasil (DBH) yang didapat tidak sebanding dengan kerusakan lingkungan yang dialami masyarakat sehari-hari. Sangat tidak sebanding dengan nominal besar yang disetor ke negara. Kami meyakini, provinsi dan daerah penghasil lain di Indonesia juga mengalami nasib serupa," terang Cholis.
Kondisi ketimpangan ini, lanjut Cholis, sebenarnya merupakan kekhawatiran lama yang pernah dipikirkan oleh para pemimpin dan tokoh historis masa lalu, termasuk Sultan Ternate terdahulu, Sultan Iskandar Djabir Sjah.
Atas dasar pertimbangan tersebut, Rampai Nusantara menyatakan dukungan penuhnya terhadap aspirasi yang diperjuangkan oleh Anggota DPD RI asal Maluku Utara tersebut. Mereka mendesak pemerintah pusat untuk segera menunjukkan sikap serius dan lebih peka dalam merespons ketimpangan yang terjadi di daerah sebelum kegelisahan ini berubah menjadi bola salju yang lebih besar. (PM/red)
