![]() |
| Petugas Damkar Usai Memadamkan Kebakaran di Desa Wailukum |
Persoalan ini mencuat setelah Kepala Bidang Pemadam Kebakaran Kabupaten Halmahera Timur, Oyang YM, mengungkapkan rasa kecewanya pada Senin (14/09/2026).
Oyang menyebut bahwa kekurangan fasilitas ini telah berulang kali diusulkan, namun sebagian besar belum terealisasi. Ia bahkan mengkritik kepemimpinan yang dinilai kurang memperhatikan keselamatan anggotanya di lapangan.
"Kami kekurangan fasilitas, tapi Kasat Pemadam Kebakaran tidak mempedulikan keselamatan anggota, padahal kami sudah usulkan," ujar Oyang.
Menurutnya, Damkar Halmahera Timur saat ini masih sangat membutuhkan APD, nosel, selang, alkon terapung, alkon manual, sensor kecil, hingga mobil tangki untuk mendukung suplai air.
Pernyataan tersebut langsung mendapat tanggapan dari Kepala Dinas Satpol PP dan Damkar Kabupaten Halmahera Timur, Abadi Dauda, SE. Abadi menegaskan bahwa keselamatan personel merupakan salah satu prioritas utama dalam pelaksanaan tugas.
Ia menilai, belum terpenuhinya fasilitas tidak serta-merta bisa disimpulkan sebagai bentuk ketidakpedulian pimpinan.
"Keselamatan personel Damkar merupakan satu prioritas utama dalam pelaksanaan tugas. Karena itu, kurang tepat apabila kondisi belum terpenuhinya sebagian fasilitas kemudian disimpulkan bahwa pimpinan tidak mempedulikan keselamatan anggota," tegas Abadi.
Abadi menjelaskan, pihaknya memahami sepenuhnya risiko tinggi yang dihadapi petugas. Kebutuhan APD, selang, nosel, alat pendukung pemadaman, alat penyedot air, hingga kendaraan suplai air telah masuk dalam perencanaan dinas.
Usulan tersebut bahkan sudah disampaikan melalui RKA Perubahan Tahun Anggaran 2026, dan kembali diusulkan dalam RKA Tahun Anggaran 2027 untuk mengganti peralatan yang rusak.
Namun, ia mengakui bahwa realisasi fasilitas tidak dapat dilakukan sekaligus karena keterbatasan anggaran daerah.
"Pemenuhan sarana dan prasarana pemerintah daerah harus menyesuaikan kemampuan fiskal daerah, prioritas pembangunan, proses penganggaran serta ketentuan pengadaan barang dan jasa pemerintah," jelasnya.
Keterbatasan anggaran ini, menurut Abadi, tidak akan dijadikan alasan untuk mengurangi tanggung jawab terhadap keselamatan petugas. Kondisi ini justru menjadi bahan evaluasi untuk menentukan skala prioritas, terutama pada peralatan yang berkaitan langsung dengan keselamatan personel.
Di tengah polemik ini, tuntutan agar petugas bergerak cepat menghadapi api tetap tinggi. Dalam beberapa hari terakhir, personel Damkar Halmahera Timur harus berjibaku menangani sejumlah kebakaran, termasuk kebakaran di Desa Bicoli pada Sabtu 12 September, dan Desa Wailukum pada Senin tadi.
Menyikapi keterbatasan yang ada, Abadi menekankan agar personel selalu bekerja sesuai kemampuan, prosedur keselamatan, dan kondisi peralatan yang tersedia saat turun ke lapangan. "Tidak boleh ada tindakan yang mempertaruhkan keselamatan anggota secara tidak perlu," cetusnya.
Ia menyatakan terbuka terhadap kritik dari masyarakat maupun internal sebagai dorongan untuk memperbaiki pelayanan. "Prinsip kami jelas, personel harus siap melindungi masyarakat, dan pemerintah juga harus terus berupaya memberikan perlindungan dan dukungan yang layak kepada personel yang berada di garis depan," pungkas Abadi. (Calu/red)
